HIDUP ITU JANGAN SEDERHANA, HIDUP ITU HARUS LUAS, HARUS TANGGUH, ... YANG SEDERHANA ADALAH SIKAP - SIKAPNYA.

Sunday, March 29, 2009

Goresan Hati dari seorang Anak utk Ayah

AKU KAN SLALU KANGEN TUK MENGECUPMU LAGI by Nurul Anugerah

Sore hari tanggal 07 Juni 2008. Sekejap ia terpana di depan pintu pagar sebuah rumah sederhana, ia selalu saja merindukan suasana dan orang-orang didalamnya, baunya selalu saja menggodanya tuk kembali datang mengetuk pintunya. Teringat kembali masa-masa lalu yang indah di rumah tersebut.“Eh, anak ndutku datang… gmana perjalanannya Nak, jadi ngambil cutinya??”, terdengar sebuah suara dari dalam. “Lancar Pak, kan demi nikahan Abang aku cuti, Bapak gimana kabarnya? Gimana kesehatannya, dah agak baikan?”, balasnya sambil mencium tangan dan memeluk orang tua yang terlihat kurus dan pucat didepannya. “Alhamdulillah dah sehat, kan anak-anakku ngumpul, itu kan obat paling mujarab buat Bapak”, ujarnya sambil tersenyum mempertegas kerutan-kerutan diwajah. Wajah yang dulu segar berwibawa kian layu ditelaan waktu.

Wajah yang beberapa tahun silam selalu saja membuat teman-teman anaknya berpendapat kalo sosoknya galak. Namun segaris senyum saja cukup membuat lega yang sangat luar biasa bagi mereka untuk memberanikan diri menyapanya. Ya, wajah itu sungguh membuat orang segan tuk menyapanya pertama kali, namun orang-orang yang telah mengenal sosoknya kan selalu merindukan keramahan dan canda-canda yang keluar dari bibirnya kala ia berperan tuk menghangatkan suasana ditengah kumpulan keluarga besar dan teman-temannya. Sosok tampan dengan chasing yang terlihat sedikit galak namun dengan content kualitas nomor satu dimata keluarganya.

Meski ia hanya seorang pensiunan pegawai negeri tamatan SMEA namun baginya pendidikan anak-anaknya adalah nomor satu, ia ingin melihat anak-anaknya lebih baik dari dirinya. Ia dengan dukungan seorang istri yang selalu setia mendampinginya merangkap ahli keuangan akuntansi keluarga, kerap mengingatkan anak-anaknya untuk bersemangat menempuh pendidikan, karna menurutnya mereka hanyalah keturunan keluarga sederhana yang takkan mampu memberikan warisan berupa gemilang harta bagi anak-anaknya kelak. Hanya pendidikan maksimal yang terbaik sesuai kemampuan dana mereka, itulah warisan paling berharga yang mereka persembahkan buat anak-anaknya kelak guna menghasilkan hartanya sendiri.

Sungguh banyak pengorbanan beliau beserta istri demi kelancaran pendidikan anak-anaknya. Perhiasan yang dulunya melekat indah, satu persatu harus ditanggalkan demi kelangsungan pendidikan anak-anaknya. “Tidak apa-apa Nak, Mama sudah pernah merasakan bagaimana memakai itu semua, toh rasanya kan sama saja sekarang dan nanti. Jadi ingat dulu Bapakmu juga pernah menjual cincin kawinnya tuk membelikan Mama baju baru saat lebaran di awal pernikahan kami”, jawaban itulah yang terlontar dari bibir sang istri ketika anak-anaknya menanyakan mengapa perhiasannya dijual. Logika matematis orang normalpun takkan sanggup membayangkan bagaimana bisa hanya dengan gaji pensiunan mampu menyelesaikan kuliah 4 orang anak dan seorang anak yang masih kuliah saat ini. Tapi akal manusia takkan pernah sanggup menguraikan asal muasal sumber-sumber rejeki yang datang dari Sang Maha Pemberi, yang kerap datang melalui tangan-tangan orang lain kepada keluarga mereka. Amplop putih berisi sedikit uang sesekali dimampirkan oleh seorang supir dari salah satu mantan bawahannya dulu, yang kini telah menjadi pimpinan tertinggi ditempatnya bekerja dulu. Belum lagi bantuan yang kerap hadir tanpa diminta dari mantan rekan kerja dan sukarelawan lainnya saat pembayaran SPP dan kuliah tiba. Sungguh rejeki Allah itu kan hadir pada saat yang tepat dengan cara yang indah.

Sukar memang membayangkan orang yang dulunya sering dimintai tolong menjemput anak-anaknya dari sekolahan, kini telah menjadi pimpinan berdasi yang kemana-mana diantar-jemput supir pribadi. Mereka-mereka itu pernah berucap kalo beliau itu sungguh mantan atasan yang luar biasa baik dan tegas, sejak dulu mereka sering dipaksa oleh beliau untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi untuk karir yang lebih baik, makanya omelannya kerap mampir saat penyakit malas kuliah mereka menyerang karena terbuai gaji bulanan yang diterima. Katanya lagi mereka dulu juga kerap dibantu alakadarnya oleh beliau saat tagihan uang kuliah hadir pada saat kantong lagi kempes.

Mereka benar-benar telah menganggap beliau dan Isterinya seperti orang tuanya sendiri, tak heran masakan Sang Isteri yang lezat kerap ikut mereka cicipi saat waktu makan siang tiba. Mereka terlihat sangat menikmati hidangan yang sangat sederhana itu dengan peluh yang sekali-kali menetes di dahi mereka. Memang olahan tangan Sang Isteri sungguh luar biasa rasanya, bagai diberi bumbu rahasia yang orang lain tak punya. Jika ditanya, Sang Isteri sering berkata kalo masakannya bisa seenak itu karena diperuntukkan khusus untuk suami dan anak-anaknya dengan penuh cinta dan keikhlasan tinggi.
Sungguh pasangan yang luar biasa, walau terlihat galak beliau tak pernah sekalipun melontarkan kata-kata kasar apalagi kontak fisik yang kasar kepada isteri dan anak-anaknya. Diam dan ngambeknya adalah puncak tertinggi kemarahannya. Bahkan dalam keadaan sakitpun beliau selalu saja membuat dirinya terlihat tegar meski fisiknya tak mampu berbohong. Penyakit diabetes yang bertahun-tahun diidapnya telah mengerogoti ginjal dan paru-parunya, namun beliau terlihat begitu bersemangat saat anak sulungnya bersiap-siap menuju pelaminan. Canda dan tawa orang-orang yang berkumpul tak henti-hentinya terdengar, saat beliau mulai memerankan diri sebagai orang paling sepuh dikeluarga besar dengan cerita-ceritanya.

Senyum lebarnya pun tak henti-hentinya ditebarkan saat dirinya dan istri berada dipelaminan mendampingi anaknya, meski beliau harus lebih banyak duduk sambil memberi salam untuk tamu yang datang. Katanya, beliau sangat ingin berada disituasi yang sama tuk semua anak-anaknya mendampinginya dipelaminannya masing-masing. Ah, teringat candanya beberapa tahun yang lalu, saat aku bertanya mengapa Hidungku tak semancung Bapak, dan di atas kursi “Tuan Takurnya” disudut ruang keluarga yang selalu ditemani Mug Besar Air Putih dan biscuit kegemarannya, beliau menjawab,“Nak, kamu itu sungguh beruntung memiliki hidung Mama yang pesek dan deretan gigi yang agak menonjol mirip Bapak, itu tandanya kamu benar-benar anak Bapak dan Mama. Apapun dirimu, kamu terlihat cantik dimata Bapak”, sambil kemudian mengacak-acak rambutku tanda sayangnya. Semua anak-anaknya langsung tersenyum penuh olokan dan tinggallah aku dengan penyakit andalan NGAMBEK, mungkin itulah salah satu warisan gen lain dari beliau. Ah.. Beliau selalu saja melontarkan olokan-olokan sayangnya pada anak-anaknya.

“Nak… kalo bisa, kamu pulanglah dulu ke sini secepatnya. Bapakmu sakit, diare terus menerus dari kemarin, dan nafasnya sering sesak”, terdengar suara isakan tertahan Mama keluar dari HP yang hampir saja jatuh dari tanganku. “Tidak usah Nak, Bapak baik-baik saja, mungkin kemarin Bapak kecapean saja”, suara Bapak terdengar kemudian. Ah, Bapak.. dalam keadaan sakit begitupun kamu selalu saja berusaha terlihat baik-baik saja dengan suara yang terdengar sedikit dipaksa kuat. Saat itu awal bulan Mei, setelah hampir 4 bulan setelah kepulangan terakhirku saat acara pernikahan Abang ku Sungguh rasanya bercampur aduk saat itu. Orang-orang yang ada disekitarkupun tak kuhiraukan lagi, mukaku terlihat memerah menahan tangis yang tak mampu kututupi, akhirnya airmata yang telah berusaha kutahan jebol juga. Rasanya ingin segera berlari melesat ke rumah yang ada di seberang pulau sana.

Wajah tua 4 bulan yang lalu itu, kini kian terlihat semakin tua dengan nafas yang iramanya tak seteratur biasanya. Satu hal yang membuatku semakin tak kuasa menahan perih hati saat beliau tak mengenalku. “Demam Bapakmu sangat tinggi, makanya dari tadi ia terus saja berhalusinasi. Kata dokter mungkin pengaruh obat,” terdengar suara Mama menenangkanku. “Pak… ini aku, Maafkan aku Pak baru sempat datang saat ini, cepat sembuh ya”, bisikku ditelinganya.
Entah berapa doa yang telah kulantunkan demi kesembuhan beliau. Ada rasa sakit di dalam sana, takut membayangkan jika tak memiliki waktu lebih lama lagi untuk sedikit membahagiakan Bapak dengan hasil keringatku sendiri yang jumlahnya tak seberapa. Tapi Pak, aku ingin menunjukkan kepada Bapak bahwa warisan yang dulu Bapak berikan telah kupetik hasilnya sedikit demi sedikit Pak. Demamnya kemudian turun setelah berjam-jam tertidur dan malamnya beliau terlihat membaik, itu kutahu saat beliau dengan nafas tersengal-sengal berkata, “Kenapa kamu ada disini. Seharusnya kamu ndak perlu repot-repot meninggalkan kerjaanmu. Bapak sudah bilang ke Mamamu kalo anak-anak jangan dikabari dan dibuat risau dengan semua ini. Bapak baik-baik saja Nak”

Bapak… Bapak… dalam keadaan sakitpun kamu masih saja melemparkan canda tawa kepada pembesuk-pembesukmu, bahkan suster-suster pun tak lewat dari candaanmu. Rumah sakit dengan kamar yang tidak terlalu besar itu hampir tiap malam sesak dengan kumpulan sodara-sodara, kerabat yang tiada hentinya datang membesukmu. Kini kutahu kalo begitu banyak orang-orang yang menyayangimu Bapak, banyak orang yang peduli kepadamu dengan mata berkaca-kaca melihatmu terbaring lemah meski dengan senyum lebar yang kau pasang untuk mereka diwajahmu. Kamu tahu Pak, aku sangat bangga menjadi anak dari seorang Bapak yang penuh kasih sepertimu, maafkan jika selama ini bantahan sering keluar dari bibir yang tak tahu terima kasih ini. Maafkan jika selama ini aku selalu dan selalu saja membuat hatimu luka dan merana dan belum mampu memenuhi keinginan-keinginanmu atasku. Meski maafku takkan mampu menghapus salah, dosa dan khilafku kepadamu, tapi ijinkan aku untuk melakukannya kali ini.

Seminggu lebih sudah dirimu dirawat di rumah sakit, kesehatanmu mulai terlihat membaik. Wajahmu terlihat lebih segar dari hari-hari kemaren. Satu malam yang tak terlupakan untukku, dimana saat Mama tercinta dan sodara-sodara lain yang menjagamu di rumah sakit terlelap, engkau yang tadinya tertidur pulas tiba-tiba terbangun. Engkau kemudiaan mengisyaratkan tangan memanggilku tuk duduk disamping tempat tidurmu, tanpa kata kamu menyuruhku mendekat ke arah wajahmu, kemudian tanganmu yang sedikit gemetar memegang dan memencet hidungku. Bapak… Bapak…, saat itu aku tahu kamu ingin bercanda denganku seperti hari-hari yang lalu. Pak… aku janji tak akan mengeluarkan penyakit ngambekku saat kamu akan melakukannya lagi, lakukanlah sesuka hatimu karena itu berarti masih akan ada waktu bercandamu untukku.

Akhirnya harus rela kembali ke rutinitas semula di tanah rantau setelah seminggu lebih berada di rumah sakit, sebelum Bapak kembali ke rumah dua hari setelahnya. Hanya mampu mendengar kabar Bapak yang tengah melakukan rawat jalan dari jauh. Irama suaramu selalu saja dipaksa terdengar teratur saat berbicara singkat denganku, meski katanya setelah itu nafasmu kembali tersengal-sengal. Sikapmu tak berubah Pak… sok tegar di tengah kondisi yang orang lain pun tak sanggup melihatnya tanpa mata berkaca-kaca. Bahkan pukul sebelas malam tanggal 06 Juni 2008 itupun, kamu sempat berkata, “Alhamdulillah Bapak dah baikan sekarang, minta doanya saja biar Bapak sehat kembali dan bisa menjengukmu lagi ke sana. Maafkan Bapak Nak karena telah membuatmu khawatir. Jaga dirimu baik-baik di sana ya”. “Iya Pak, saya selalu kan mendoakan kesembuhan Bapak. Maafkan saya juga Pak karna tak bisa berada disana saat ini”, kataku lewat telepon saat mendengar kabar Bapak yang telah dua hari harus dirawat lagi di rumah sakit.

Keesokan harinya setelah menahan berjuta rasa sejak pukul 05.30 WITA, dan menunggu berjam-jam penerbangan langsung menuju kota kelahiranku, akhirnya pukul 15.30 WITA kembali kulihat lagi rumah sederhana kami yang telah dipenuhi sanak sodara dan kerabat di dalam dan di luar pagarnya. Ah.. berada kembali di rumah yang selalu membuatku kangen akan baunya, membuatku rindu suasananya dan orang-orang di dalamnya. Tapi mengapa kali ini aku sangat benci baunya, aku tak suka suasananya seperti ini, aku tak ingin kumpulan orang-orang seperti saat ini. Kupeluk Mamaku yang terlihat duduk lemas dipojokan bersama sodaraku yang lain. Tolong bangun Bapak, ini anak Ndutmu datang lagi, mana sambutan hangatmu seperti dulu, mana pelukan serta kecupan hangatmu buat si Pesekmu ini. Buka matamu Pak, lihat aku datang untuk mendengar canda tawamu lagi. Bapak… Bapak… Bapak… kau tahu ternyata rasanya lebih sakit lagi di dalam sana saat melihatmu terbujur kaku tak bergerak dengan senyum yang masih nampak disana seperti tertidur pulas. Kubisikkan sebait doa dan Al-Fatihah untuk Bapakku tersayang. Maafkan anakmu ini Pak, maafkan diriku yang tak bisa mendampingi dirimu di saat-saat terakhirmu.. Maafkan segala kekhilafanku padamu Bapak.. kutahu itu terlalu sangat telat untuk dilakukan sekarang. Tuk terakhir kalinya, Ijinkanlah aku mengecupmu sekali lagi Bapak.

Tanah merah itu telah menimbun dirimu seorang diri di dalam sana Bapak… dan tahukah kamu Bapak AKU KAN SLALU KANGEN TUK MENGECUPMU LAGI….

I MISS U SO MUCH…..Mwahh…Mwahh…Mwahh…

(Noe2 : Maret 2009, tuk 07 Juni 2008 saat diriku harus rela kehilangan salah satu penyangga hatiku)


NB : Terima kasih Allah karena kamu tlah memberikan keluarga yang luar biasa untukku :
*** Bapak , sosok ayah yang penuh dengan cinta dan canda ... Al-Fatihah untukmu Pak...
*** Mama, sosok ibu yang penuh dengan kasih sayang dan omelan, I Love U Mom... Jaga kesehatan y...
*** Abang2 n Adik2ku yang penuh dengan olokan2nya tapi trima kasih karena kalian mengenalkanku arti persodaraan, saling bantu-membantu satu sama lain meski sering diselingi pertengkaran dan perselisihan yang lumayan dasyat... I Love U guys..

Meski keluarga ini tak sesempurna milik orang lain, tapi kalian telah menyempurnakan kebahagiaan hidupku... (jadi kangen ama rumah, hiks3)

0 comments:

Post a Comment

Powered by Blogger.